Pages

Tampilkan postingan dengan label Rohani. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Rohani. Tampilkan semua postingan

Jumat, 16 April 2010

Kuasa Bunda Maria

Gambar ini diambil di Gereja Katedral Padang stelah gempa bumi dahsyat mengguncang daerah tersebut.


MUJIZATKAH INI?????

Bahkan Setan pun Mengakui Kehadiran Tuhan dalam Sakramen Maha Kudus

Bagi kita, orang Katolik, percaya dengan sungguh bahwa Yesus memang hadir dalam rupa Hosti dan Anggur. Banyak sudah mujizat yang terjadi berkenaan dengan hal ini, antara lain, Hosti dan Anggur benar berubah menjadi, masing-masing, cukilan daging dan gumpalan darah segar. Dan itu tidak rusak sampai saat ini meski sudah puluhan, ratusan, atau bahkan, ribuan tahun umurnya.

Juga pernah kita dengar kisah S. Antonius Padua saat berkhotbah di Toulose, Perancis. Kala itu, S. Antonius membuat mujizat dengan menyuruh seekor keledai yang kelaparan untuk berlutut di hadapan Sakramen Maha Kudus seraya menundukkan kepalanya dalam-dalam ke tanah. Sang keledai yang sengaja tidak diberi makan selama tiga hari itu sama sekali tidak menghiraukan jerami segar yang ada di dekatnya.

Bahkan setan pun dipergunakan oleh-Nya untuk mengakui kehadiran nyata Tuhan dalam Sakramen Maha Kudus ! Hal ini terkuak ketika dilakukan proses eksorsisme terhadap Nicola Aubrey, seorang wanita Katolik saleh yang dirasuki oleh Beelzebul, sang penghulu setan (Mat 12:24, Luk 11:15), beserta 29 setan pengikutnya atas seizin Tuhan sendiri.

Proses eksorsisme adalah proses pengusiran setan. Pihak Gereja Katolik memiliki ritual khusus untuk proses ini. Tidak semua imam Katolik diberi kuasa untuk melakukannya. Karena itulah, sangat jarang kita dengar proses eksorsisme yang dilakukan oleh Gereja Katolik. Namun beberapa di antaranya telah dipublikasikan, bahkan ada yang dibuatkan film. Kasus Anneliese Michel adalah salah satunya. Sayangnya gadis muda belia yang berparas cantik itu harus kehilangan nyawanya di dunia ini.

Nah kisah Nicola Aubrey ini beakhir happy ending. Kisahnya, konon kabarnya, baru dibuka setelah wafatnya Sri Paus JP II. Berikut petikan kisahnya. Maaf kalau kepanjangan. Kebenarannya bisa ditanyakan ke mbah Google atau ke mas Wikipedia.

Bila setan pun mengakui, meskipun dipaksa oleh kekuatan Ilahi, masih adakah kita meragukan kehadiran nyata Tuhan sendiri dalam rupa Hosti dan Anggur ? Namun juga jangan sampai terjadi 'main hakim sendiri' bila ditemui kasus pelecehan Sakramen Maha Kudus, sebagaimana yang pernah saya dengar terjadi di Flores......


.....Eksorsisme Nicola Aubrey,
oleh Father Michael Müller, C.S.S.R.
(kisah nyata / true story / dokument Vatikan yang baru dibuka )

Sungguh suatu kenyataan yang luar biasa bahwa, sebagaimana setan menggunakan Martin Luther, seorang rahib yang ingkar, demi merendahkan Misa Kudus dan menyangkal Kehadiran Nyata, sedemikan pula Allah dapat menggunakan kekuatan setan sebagai pembuktian kehadiranNya yang nyata. Allah berulang kali secara terbuka memaksa setan untuk menyatakan kepercayaannya tentang kehadiranNya yang nyata, untuk mengacaukan para bidaah akibat kesesatan mereka, dan menaklukkan dirinya (setan) di hadapan Allah dalam rupa Sakramen Maha Kudus.

Untuk maksud inilah Allah telah mengijinkan seorang wanita yang bernama Nicola Aubrey, seorang yang inosen/tak bersalah menjadi dikuasai/dirasuki oleh Beelzebul dan 29 kekuatan jahat lainnya. Penguasaan ini terjadi 08/Nov/1565 dan berakhir hingga 08/Feb/1566.

Orang tuanya membawa Nicola kepada Romo de Motta, seorang Imam yang saleh di Vervins, agar beliau dapat mengusir setan melalui eksorsisme sesuai Gereja Katholik. Rm.de Motta telah mencoba beberapa kali mengusir kekuatan jahat dengan menggunakan relikwi salib suci, namun tidak berhasil; Setan tidak dapat diusir. Akhirnya, diinspirasikan oleh Roh Kudus, beliau memutuskan untuk mengusir setan dengan kehadiran Sakramen Tubuh dan Darah Kristus. Sementara Nicola terbaring dalam keadaan mati suri, Rm.de Motta meletakkan Sakramen Maha Kudus di bibir Nicola, dan seketika daya kekuatan jahat dipatahkan; Nicola kembali sadar dan dapat menerima komuni kudus dengan segenap tanda devosi. Segera setelah Nicola dapat menerima Komuni Kudus, wajahnya menjadi cerah dan cantik sebagaimana raut wajah seorang malaikat, dan semua yang menyaksikannya diliputi sukacita dan keheranan, dan mereka bersyukur memuji Allah dari hati mereka yang terdalam.

Dengan seijin Allah, setan datang kembali dan merasuki Nicola lagi.

Ketika keadaan penguasaan setan atas Nicola diketahui orang banyak, beberapa orang pengkotbah Calvinis bersama pengikutnya datang, untuk "menyingkap kebohongan Paus" kata mereka. Saat mereka masuk, setan memberi salam sambil mengejek mereka, menyebut nama2 mereka dan mengatakan bahwa mereka telah datang karena ketaatan pada setan. Salah seorang pengkotbah membuka buku doa Protestannya dan mulai membaca dengan wajah yang sungguh khidmat. Setan mentertawakannya, dan menunjukkan mimik muka seperti komik, setan berkata: "Ho ho! Teman-teman baikku; apakah engkau ingin mengusir aku dengan doa2 dan pujianmu? Apakah kamu pikir hal itu akan menyakiti aku ? Tidak tahukah kamu bahwa doa pujian itu milikku ? Akulah yang telah membantu untuk menggubahnya !"

"Aku akan mengusirmu dalam nama Tuhan," kata pengkotbah itu sungguh2.

"Kamu..!" kata setan, mengejek. "Kamu tidak akan mengusir aku baik dalam nama Tuhan atau dalam nama setan. Apakah kamu pernah mendengar ada setan yang satu mengusir setan yang lain?"

"Aku bukan setan." kata pengkotbah itu dengan marah, "Aku adalah pelayan Kristus".

"Seorang pelayan Kristus, tentu saja!" kata setan sambil menyeringai. "Tahukah kamu! Kukatakan padamu bahwa kamu lebih buruk daripada aku. Aku percaya, sedangkan kamu tidak mau percaya. Apakah kamu mengira bahwa kamu dapat mengusir aku dari tubuh orang sialan ini? Ha! Pergilah dulu dan usir setan2 dari dalam hatimu sendiri !"

Pengkotbah itu hendak pergi, ia merasa tidak senang. Ketika berjalan keluar, ia berkata seraya menatap ke atas, "O Tuhan, aku berdoa padaMu, tolonglah anakmu yang malang ini!"

"Dan aku berdoa, Lucifer," teriak setan, "agar pengkotbah ini tidak akan pernah meninggalkanmu (Lucifer), tetapi semoga ia tetap memujamu dengan segenap kekuatannya, seperti yang dilakukannya saat ini. Pengkotbah, pergilah selesaikan tugas2mu sekarang. Kalian semua milikku, dan akulah tuanmu".

Saat Romo de Motta tiba, beberapa orang Protestan segera pergi - mereka telah melihat dan mendengar lebih dari yang mereka inginkan. Yang lainnya, bagaimanapun, tetap tinggal; dan amatlah dahsyat terror yang mereka terima ketika mereka melihat bagaimana setan menggeliat dan berteriak dalam kengerian, ketika Sakramen Maha Kudus dibawa dekat pada setan. Akhirnya kekuatan jahat itu pergi, meninggalkan Nicola dalam keadaan tak sadar.
Sementara Nicola dalam keadaan ini, beberapa pengkotbah mencoba membuka mata Nicola, namun mereka tak dapat melakukannya. Romo kemudian meletakkan Sakramen Maha Kudus di bibir Nicola; dan seketika ia kembali sadar.

Romo de Motta kemudian berpaling kepada para pengkotbah yang keheranan, dan berkata: "Pergilah sekarang, kalian para pengkotbah Injil baru; pergilah dan kabarkan kemana saja apa yang telah kalian lihat dan dengar. Janganlah lagi menyangkali bahwa Tuhan kita Yesus Kristus sungguh2 ada dan nyata hadir dalam Sakramen Mahakudus di altar. Pergilah sekarang, dan jangan membiarkan wibawa hormat manusia menghalang-halangimu dari menyatakan kebenaran".

Selama beberapa hari eksorsisme berikutnya, setan dipaksa untuk mengakui bahwa ia memang tidak diusir di Vervins, dan bahwa ia membawa bersamanya 29 setan2 lain diantaranya 3 iblis yang berkuasa : Cerberus, Astaroth dan Legio.

Pada hari ke 3 di bulan Januari tahun 1556, bapa Uskup tiba di Vervins, dan memulai eksorsisme di Gereja, di tengah kehadiran umat yang amat banyak.

"Saya perintahkan engkau, dalam nama dan kekuatan dari kehadiran nyata Tuhan kami dalam Sakramen Maha Kudus, untuk segera enyah." demikian kata bapa Uskup kepada setan dalam suaran yang khidmat.

Setan akhirnya diusir, untuk kedua kalinya berkat kehadiran Sakramen Ekaristi. Saat pergi, setan melumpuhkan tangan kiri dan kaki kanan Nicola, dan juga membuat tangan kirinya lebih panjang dari tangan kanan; dan tidak ada kekuatan di bumi yang dapat menyembuhkan keadaan yang aneh ini, hingga beberapa minggu kemudian ketika setan akirnya telah dienyahkan dengan sempurna dan tidak dapat kembali lagi.

Nicola kemudian dibawa ke perayaan peziarahan Bunda Maria dari Liesse, khususnya karena setan sepertinya amat takut terhadap tempat itu.

Hari berikutnya Rm.de Motta memulai eksorsisme di Gereja Bunda Maria daria Liesse, di tengah kehadiran umat yang besar.

Romo memegang Sakramen MahaKudus dalam tangannya dan menunjukkanNya pada iblis, sambil berkata "Aku perintahkan engkau, dalam nama Tuhan yang hidup, Emmanuel yang Agung yang hadir di sini, dan yang di dalamNya engkau percaya".

"Ah, ya!" kata setan, "Aku percaya padaNya," dan setan berteriak kesakitan lagi ketika mengatakan pengakuannya, karena ia disiksa oleh kekuatan Ilahi.

"Aku perintahkan engkau, oleh karena NamaNya." kata Imam. "untuk meninggalkan tubuh ini segera"

Dengan kata2 ini, dan khususnya dengan kehadiran Sakramen Ekaristi, setan menderita siksaan hebat yang sangat menakutkan. Suatu saat tubuh Nicola berputar menggelinding seperti bola, lalu kembali tubuhnya membengkak sangat menakutkan.
Suatu ketika wajahnya memanjang dengan aneh, lalu melebar sekali dan terkadang berwarna merah padam dan terkadang berbintik-bintik seperti katak.

Imam masih meneruskan untuk mendesak dan menyiksa setan. "Roh yang terkutuk" teriaknya, "Aku perintahkan engkau, dalam Nama dan oleh kehadiran nyata dari Tuhan kita Yesus Kristus di sini dalam Sakramen Maha Kudus, untuk segera enyah dari tubuh makhluk yang malang ini".

"Ah ya!" jerit setan, melengking liar, "26 dari teman2ku akan segera pergi saat ini, karena mereka dipaksa berbuat demikian".


Para jemaat yang hadir kini mulai berdoa dengan penuh semangat. Tiba2 anggota badan Nicola mulai retak, seperti tulang2 dalam tubuhnya mulai patah, semacam wabah asap/uap keluar dari mulutnya, dan 26 roh jahat meninggalkan tubuh Nicola, tidak pernah kembali lagi.

Lalu Nicola jatuh pingsan, dimana ia hanya dapat disadarkan dengan Sakramen Maha Kudus. Ketika dipulihkan dan menerima sakramen Ekaristi, raut wajah Nicola bercahaya seperti wajah seorang malaikat.

Imam masih meneruskan mendesak setan, dan menggunakan semua harta pusaka gereja untuk mengusirnya.

"Aku tidak akan pergi, kecuali diperintahkan oleh Uskup dari Leon" kata setan dengan marah.

Lalu Nicola dibawa ke Pierrepont, dimana satu iblis bernama Legio, diusir oleh kehadiran Sakramen Maha Kudus.

Pagi hari berikutnya Nicola dibawa ke Gereja. Dengan menakutkan ia dibawa keluar rumah, ketika setan merasukinya lagi.

Uskup yang diminta untuk pengusiran dalam Nicola, mempersiapkan dirinya untuk tugas yang berat ini dengan berdoa dan berpuasa, dan mengerjakan perbuatan2 silih lainnya.

Saat kedatangan Nicola di Gereja, eksorsisme dimulai. "Berapa diantaramu yang ada dalam tubuh ini?" tanya bapa Uskup.

"Kami bertiga" jawab roh jahat itu.

"Apa nama2 kalian?"

"Beelzebub, Cerberus, dan Astaroth."

"Apa yang terjadi pada yang lainnya? tanya bapa Uskup.

"Mereka sudah dienyahkan" jawab setan.

"Siapa yang mengusir mereka?"

"Ha!" teriak setan, menggertakkan giginya. "itulah Dia yang engkau pegang dalam tanganmu, di sana dalam Patena". Setan menunjuk Tuhan kita dalam Sakramen Maha Kudus.

Bapa Uskup lalu memegang Sakramen Maha Kudus ke dekat wajah Nicola. Setan menggeliat dan berteriak penuh kengerian. "Ah. ya! Aku akan pergi, aku akan pergi!" ia memekik tertawa, "tetapi aku akan kembali".

Segera tubuh Nicola menjadi kaku dan tak bergerak seperti batu marmer. Bapa Uskup lalu menyentuhkan bibirnya dengan Sakramen Maha Kudus dan detik itu juga ia segera sadar sepenuhnya. Nicola menerima Komuni Kudus dan air mukanya sekarang bercahaya memancarkan kecantikan Ilahi.

Hari berikutnya Nicola dibawa kembali ke Gereja, dan eksorsisme dimulai lagi seperti biasa.

Bapa Uskup memegang Sakramen Ekaristi dalam tangannya, mendekatkan pada wajah Nicola dan berkata:

"Aku perintahkan engkau dalam nama Allah yang hidup, dan dengan kehadiran Yesus Kristus Tuhan kita yang nyata di sini dalam Sakramen di altar, agar engkau segera enyah dari tubuh ciptaan Tuhan ini dan tak pernah kembali".

"Tidak, tidak" teriak setan, "Aku tidak akan pergi. Waktuku belum tiba".

"Aku perintahkan engkau untuk pergi, enyahlah, roh tercela, terkutuk! Pergilah!" dan bapa Uskup memegang Sakramen Maha Kudus dekat wajah Nicola.

"Stop, stop!" jerit setan; "biarkan aku pergi! Aku akan pergi - tetapi aku akan kembali". Segera Nicola terjatuh dengan tawa yang mengerikan. Suatu asap hitam keluar dari mulutnya dan ia jatuh pingsan lagi.

Selama Nicola tinggal di Leon, ia dengan hati-hati dipelajari oleh para psikiater Katolik dan Protestan. Tangan kirinya, yang telah dilumpuhkan oleh setan, didapati mati rasa. Para dokter menggores lengannya dengan pisau tajam, membakar dengan api, menusuk dengan jarum dan paku pada jari2 tangannya, tetapi Nicola tidak merasa sakit; tangannya telah mati rasa.
Suatu ketika Nicola sedang berbaring dalam keadaan mati suri, para dokter memberinya semacam roti yang dicelupkan ke dalam anggur (seperti yang disebut kaum Protestan sebagai komuni mereka atau Perjamuan Kudus), mereka menyeka bibrnya dengan kasar, meeka memercikkan air pada wajahnya, mereka menusuk lidahnya hingga darah keluar; mereka mencoba segala cara untuk membagunkan Nicola, namun sia-sia!
Tubuh Nicola tetap diam dan tak bergerak seperti patung marmer. Akhirnya Imam menyentuhkan Sakramen Maha Kudus ke bibir Nicola dan seketika ia kembali sadar sepenuhnya dan mulai memuji Tuhan.

Mukjizat ini sangat jelas, sangat gamblang, hingga seorang dokter yang tadinya Calvinis fanatik, segera memperbaiki kesalahannya, dan menjadi Katholik.

Beberapa kali, juga kaum Protestan menyentuhkan hosti yang belum dikonsekrasi ke wajah Nicola, yang mana konsekwensinya adalah hanya roti, tidak berpengaruh sedikitpun bagi setan, malah ia melecehkan usaha mereka.

Pada tanggal 27 Januari, bapa Uskup, setelah berjalan dalam prosesi yang hikmat dengan para rahib dan umat, memulai exorsisme di Gereja, dengan kehadiran banyak jemaat Protestan dan Katolik.

Bapa Uskup sekarang memegang Sakramen Maha Kudus dekat ke wajah Nicola. Tiba-tiba suatu teriakan yang liar dan aneh terdengar nyaring di udara - suatu asap hitam pekat keluar dari mulut Nicola. Setan Astaroth telah dienyahkan selamanya.

Selama eksorsisme yang berlangsung tanggal 1 Feb, bapa Uskup mengatakan:

"O roh yang terkutuk! Oleh karena bukan doa, atau Injil Suci ataupun eksorsisme oleh Gereja, atau relikwi suci, dapat memaksamu untuk pergi, saya sekarang akan menunjukkan padamu Tuhan dan Junjungan kami, dan dengan kuasaNya saya perintahkan engkau"

Selama eksorsisme yang dilangsungkan setelah Misa, bapa Uskup memegang Sakramen Maha Kudus dalam tangannya dan berkata : "O roh yang terkutuk, musuh besar dari Allah yang maha Kuasa! Aku perintahkan engkau, oleh Darah Yesus Kristus yang Maha Mulia hadir di sini, agar enyah dari wanita malang ini! Enyahlah hai terkutuk ke dalam api neraka yang kekal!"

Saat kata2 ini diucapkan, dan khususnya dengan kehadiran Sakramen Maha Kudus, setan menjadi sangat takut dan kesakitan dan penampilan Nicola menjadi seram dan memberontak, hingga orang2 memalingkan mata mereka penuh ketakutan. Akhirnya suatu keluhan berat terdengar, dan sutau awan dari asap hitam keluar dari mulut Nicola, Cerberus telah dienyahkan.

Lalu Nicola jatuh lagi dalam mati suri dan ia dapat disadarkan kembali hanya oleh kehadiran Sakramen Ekaristi.

Selama eksorsisme, yang berlangsung di hari ketujuh bulan Februari, Uskup mengatakan pada setan:

"Katakan padaku, mengapa engkau merasuki tubuh wanita Katolik yang jujur dan berbudi luhur ini ?"

"Aku melakukannya atas ijin Allah. Aku telah dapat menguasai dia akibat dosa-dosa banyak orang. Aku melakukannya untuk menunjukkan kepada para pengikut Calvinis ku bahwa mereka adalah roh jahat yang dapat mengambil kuasa atas manusia jika Allah mengijinkannya. Aku tahu mereka tak ingin mempercayai ini; namun aku akan menunjukkan kepada mereka bahwa akulah roh jahat. Aku telah merasuki makhluk ini agar mereka bertobat, atau agar makin mengeraskan hati mereka dalam dosa2 mereka; dan melalui kurban berdarah, akau akan melakukan karya2ku".

Jawaban ini menakutkan hati tiap orang yang mendengarnya dengan horor. "Ya" jawab bapa Uskup dengan khidmat, "Allah menginginkan persatuan setiap orang hanya dalam iman yang kudus. Karena hanya ada satu Allah, maka hanya ada satu agama yang benar. Agama seperti yang telah diciptakan kaum protestan hanyalah suatu olok-olok yang palsu. Ajaran ini pasti hancur. Agama yang didirikan oleh Tuhan kita Yesus Kristus adalah satu-satunya yang sejati; hanya itu yang akan bertahan sampai kekal. Agama ini dimaksudkan untuk persatuan semua umat manusia dalam rangkulan pengorbanannya, agar hanya ada satu kawanan dengan satu gembala. Gembala Ilahi inilah Tuhan kita Yesus Kristus, yakni kepala yang tak nampak dari Gereja Katolik yang Kudus. yang pemimpin nyatanya adalah Bapa Suci - Paus penerus St.Petrus".

Setan berdiam diri - dia dipermalukan di hadapan orang banyak. Setan sekali lagi dienyahkan oleh kehadiran Sakramen Maha Kudus.

Pada sore harinya, setan mulai menangis: "Ah! Ha! Kalian pikir bahwa kalian dapat mengusir aku dengan cara ini. Kalian tidak memiliki prosedur kehadiran Uskup yang benar. Di manakah para diakon dan prodiakon? Di manakah para hakim agung? Di mana kepala hakim, yang telah ketakutan karena ucapannya malam itu, di penjara ? Di manakah para penagih kerajaan ? Di mana para pengacara dan penasihat ? Di mana juru tulis pengadilan ? (Setan menyebutkan nama mereka masing2) "Aku tidak akan pergi sampai mereka semua hadir. Jika aku harus pergi sekarang, apa bukti yang dapat kalian berikan pada raja atas segala sesuatu yang telah terjadi? Kalian pikir orang akan mempercayaimu demikian saja? Tidak, tidak! Akan banyak yang mengajukan keberatan2. Pengakuan dan
kesaksian dari orang2 & penduduk setempat bobotnya rendah. Adalah penyiksaan bagiku bahwa aku harus memberitahu padamu apa yang harus kalian lakukan. Aku dipaksa untuk melakukannya. Ha! Terkutuklah jam disaat pertama aku menguasai orang sial ini".

"Aku menemukan sedikit kesenangan dari ocehanmu," jawab bapa Uskup; "Ada cukup banyak saksi di sini. Mereka yang kau sebutkan tidaklah dibutuhkan.
Enyah! lalu berikan kemuliaan bagi Tuhan. Pergilah - ke dalam kobaran api neraka!"

"Ya, aku akan pergi, namun tidak hari ini. Aku tahu pasti aku harus pergi. Kalimatku telah berlalu; aku dipaksa untuk pergi"

"Aku tidak perduli pada ocehanmu", kata bapa Uskup, "Aku dapat mengusirmu dengan kuasa dari Allah; dengan darah yang Maha Mulia dari Tuhan kita Yesus Kristus".

"Ya, aku harus taat padamu", teriak setan dengan liar. "Sangat menyakitkan bagiku untuk memberi padamu hormat ini".

Bapa Uskup sekarang mengangkat Sakramen Maha Kudus dalam tangannya, dan memegangnya dekat dengan wajah Nicola.

Akhirnya setan dipaksa untuk pergi sekali lagi.

Pagi berikutnya, setelah prosesi selesai, Kurban Misa Kudus dirayakan seperti biasanya.
Selama konsekrasi, Nicola diangkat ke udara setinggi 6 kaki (sekitar 180 cm) sebanyak 2-kali, dan dijatuhkan dengan keras ke lantai. Saat Uskup, sejenak sebelum Bapa Kami, mengambil Hosti sekali lagi dalam tangannya dan mengangkat hosti beserta piala, Nicole diangkat lagi ke udara, dengan 15 orang pria yang menahannya setinggi 6 kaki, dan setelah beberapa waktu ia jatuh dengan keras ke lantai.

Pada saat ini, semua yang hadir dipenuhi teror yang mengerikan. Seorang Jerman Protestan bernama Voske jatuh berlutut, berlinang air mata; iapun bertobat.

"Ah!" kata Voske. "Aku sekarang percaya penuh bahwa setan sungguh dapat menguasai makhluk yang malang. Aku percaya bahwa sungguh2 hanyalah Tubuh dan Darah Kristus yang dapat mengusir setan. Aku sungguh percaya. Aku tidak akan lagi menjadi Prostestan".

Selesai Misa, eksorsisme dimulai seperti biasanya.
"Sekarang, akhirnya," kata bapa Uskup, "engkau harus pergi. Pergilah, roh jahat!"
"Ya," kata setan, "benar bahwa aku harus pergi, tapi belum saatnya. Aku tidak akan pergi sebelum waktunya sejak aku menguasai orang celaka ini"

Akhirnya Uskup mengambil Hosti Kudus dalam tangannya dan berkata: "Dalam nama Allah Tritunggal termulia: Bapa, Putera dan Roh Kudus - dalam nama Tubuh Kritus yang hadir di sini - aku perintahkan engkau, roh jahat, enyahlah".

"Ya, ya, itu benar!" teriak setan dengan liar: "benarlah, Itu adalah Tubuh dan Darah Kristus. Aku harus mengakuinya, karena aku dipaksa untuk melakukannya. Ha! Sangat menyakitkan bagiku untuk mengakuinya, tapi aku harus. Aku mengatakan yang benar hanya jika aku dipaksa melakukannya. Kebenaran bukan dari aku. Kebenaran datang dari Allah Tuhanku dan Majikanku. Aku telah dapat merasuki tubuh ini atas seijinNya.

Bapa Uskup sekarang memegang Hosti Kudus dalam tangannya dekat ke wajah Nicola. Setan menggeliat dalam kesakitan yang mengerikan. Ia berusaha dengan segala cara untuk menghindari kehadiran Tuhan Yesus dalam Sakramen Maha Kudus. Akhirnya suatu asap hitam yang panjang keluar dari mulut Nicola. Iapun jatuh tak sadarkan diri dan sekali lagi dapat disadarkan hanya dengan kehadiran Sakramen maha Kudus.

Pada tanggal 8 Feb., hari yang ditetapkan Allah dimana setan harus meninggalkan Nicola selama-lamanya, akhirnya tiba. Setelah prosesi yang hikmat, bapa Uskup memulai eksorsisme yang terakhir.

"Aku tidak akan bertanya lagi kepadamu," kata bapa Uskup pada setan, "ketika engkau berniat pergi; aku akan memaksa mu keluar segera dengan kuasa dari Allah yang hidup dan tubuh dan darah termulia Yesus Kristus, Putera terkasihNya, disini hadir dalam Sakramen di Altar".

"Ha! Ya", jerit setan: "Aku mengakui bahwa Putera Allah sungguh hadir di sini. Ia adalah Tuhan dan Majikanku. Sangat menyiksa bagiku untuk mengakuinya, namun aku dipaksa untuk melakukan ini." Lalu setan mengulanginya beberapa kali, dengan teriakan yang nyaring dan aneh: "Ya benar, aku harus mengakuinya. Aku dipaksa untuk keluar, oleh kuasa Tubuh Kristus yang hadir di sini. Aku harus - aku harus pergi. Aku sangat tersiksa karena harus pergi demikian cepat, dan aku harus mengakui kebenaran ini. Tetapi kebenaran ini bukan dari aku; kebenaran ini datang dari Tuhanku dan Majikanku, yang telah mengirim aku kemari, dan yang telah memerintahkan dan memaksa aku untuk memberi kesaksian akan kebenaran ini di depan khalayak."

Bapa Uskup lalu mengambil Sakramen Maha Kudus dalam tangannya dan meninggikanNya lalu berkata dengan khidmat: "O engkau yang jahat, roh yang tercemar, Beelzebub ! Engkau musuh besar Allah yang kekal! Perhatikanlah, hadir di sini, Tubuh dan Darah dari Tuhan kita Yesus Kristus, Tuhan dan Junjungan kita. Aku mendesakmu, dalam nama dan kuasa dari Tuhan dan Penyelamat kita Yesus Kristus, sungguh Allah sungguh manusia, yang hadir di sini; aku perintahkan engkau segera pergi untuk selama-lamanya dari ciptaan Allah ini. Pergilah ke tempat terdalam dari neraka, disana untuk tersiksa selama-lamanya. Pergilah, roh yang tercemar, pergilah - perhatikan di sini Tuhan dan Allahmu !".
Melalui kata2 khidmat ini, dan di depan Sakramen Kudus Allah, tubuh wanita malang yang dirasuki itu menggeliat ketakutan. Anggota2 tubuhnya retak seolah tiap2 tulangnya patah. Kelima belas pria dewasa yang kuat menahannya dengan susah payah. Mereka terhuyung-huyung dari satu sisi ke sisi yang lain, sehingga mereka bersimbah peluh. Setan mencoba menghindat dari kehadiran Tuhan Allah dalam Sakramen Maha Kudus. Mulut Nicola terbuka lebar, lidahnya menjulur panjang melewati dagunya, wajahnya membengkak dan rautnya menyimpang aneh sangat menakutkan.
Warna tubuhnya berubah-ubahnya dari kuning menjadi hijau, dan malah menjadi abu-abu atau biru, sehingga ia tidak lagi nampak serupa seorang manusia; ia lebih nampak sebagai inkarnasi setan yang mengerikan. Seluruh yang hadir tercekam dalam teror, khususnya ketika mereka mendengar jerit tangis setan yang menakutkan, terdengar seperti raungan nyaring seekor kerbau liar.

Merekapun jatuh berlutut, berlinang air mata, menangis: "Yesus, kasihanilah kami!"

Bapa Uskup terus mendesak setan. Akhirnya roh jahat itu pergi dan Nicola terjatuh tak sadarkan diri ke tangan para penahannya. Dia masih shock dan trauma. Saat itu dalam kondisi demikian ia dipertunjukkan kepada para hakim, dan kepada segenap yang hadir, ia telah berputar menggelinding seperti bola.
Bapa Uskup pun berlutut untuk memberikan Sakramen Maha Kudus, seperti biasanya. Namun lihat! Tiba2 setan itu kembali, dengan amarah yang liar, berusaha membekukan tangan Uskup dan malah mencoba merebut Sakramen itu. Bapa Uskup berusaha mengelak; Nicola terangkat ke udara dan Uskup bangkit berdiri, terkejut dan tergetar oleh teror hingga pucat pasi.

Namun Uskup yang baik itu mengumpulkan segenap keberaniannya; ia mengejar si setan, memegang Sakramen Maha Kudus dalam tangannya, sampai suatu jarak dengan setan, maka diliputi kuasa Tubuh Kristus Tuhan kita, keluarlah dari mulut Nicola asap pekat dan kilat menyambar disertai guntur.

Sejurus kemudian, setan telah dipaksa enyah selama-lamanya, pada Jum'at sore itu tepat jam tiga, pada hari dan jam yang sama ketika Kristus Tuhan kita mengalahkan kekuasaan neraka oleh KematianNya yang menyelamatkan.

Nicola sekarang telah dipulihkan dengan sempurna, ia dapat menggerakkan tangan kirinya dengan mudah. Ia jatuh berlutut, bersyukur dan memuji Allah, dan berterimakasih kepada bapa Uskup atas segala yang telah diberikannya kepada Nicola.

Para umat yang hadir menangis dalam sukacita dan menyanyikan kidung pujian dan syukur dalam hormat kepada Allah dalam Sakaramen Maha Kudus.

Di segenap penjuru kota terdengar teriakan: "Oh, mukjizat yang luar biasa! Oh, terimakasih dan syukur pada Tuhan, bahwa aku menyaksikannya! Siapakah yang sekarang dapat meragukan kehadiran Tuhan kita Yesus Kristus yang nyata dalam Sakramen di Altar yang kudus!"

Banyak orang Protestan juga berkata: "Sekarang aku percaya pada kehadiran Kristus Tuhan kita dalam Sakramen Maha Kudus; aku telah menyaksikannya dengan mataku sendiri! Aku tak akan menjadi calvinis lagi. Terkutuklah mereka yang telah menyesatkan aku! Oh, sekarang aku dapat mengerti kemuliaan dalam Kurban Misa yang Kudus!"

"Te Deum" yang khidmat dinyanyikan; meriah suara organ bergemuruh, dan lonceng Gereja bersahutan dibunyikan, genta kegembiraan.

Segenap penduduk kota diliputi damai dan sukacita.

Kemenangan besar Yesus Kristus dalam Sakramen Maha Kudus atas setan ini, terjadi di hadapan lebih dari 150.000 orang, dihadiri semua pejabat Gereja dan pemerintahan di kota itu, umat Protestan dan Katolik bersatu. Saya sudah menerbitkan suatu buku dari peristiwa luar biasa ini berjudul "Triumph of the Blessed Sacrament". Kenyataan ini telah dibukti-nyatakan oleh berbagai pihak dan diterbitkan dalam beragam bahasa - Perancis, Italia, Spanyol dan Jerman.

Sumber: http://www.ekaristi.org/forum/viewtopic.php?t=6692&sid=6f16330b79ddfae9e4de02a5ecace63f

Sabtu, 12 Desember 2009

TAIZE, Pintu Masuk Ekumenis yang Peka Zaman

0. Pengantar

Hampir semua orang Kristiani pasti pernah mendengar mengenai Doa Meditatif Taize. Taize adalah nama dusun dimana Bruder Roger memulai mewujudkan gagasannya mengenai suatu komunitas murid Kristus. kini, gerakan Taize sudah mendunia. Indonesia tak luput dari perkembangan gerakan Taize ini. Banyak komunitas-komunitas doa Taize hidup dan berkembang. Taize menjadi suatu bentuk persekutuan ekumenis yang berada dalam bidang spritualitas. Tulisan ini akan mencoba mengulas Taize sebagi suatu persekutuan ekumenis. Untuk memperjelas ulasan, tulisan dibagi menjadi 3 bagaian, [1] sejarah, [2] Taize sebagai gerakan persekutuan Ekumenis, [3] kesimpulan: Taize dalam persepektif.

1. Sejarah: Perjalanan Bruder Roger

Berbicara mengenai Taize hampir tidak mungkin melupakan peran Bruder Roger. Beliaulah pendiri komunitas Taize. Bruder Roger mempunyai nama lengkap Roger Louis Schutz-Marsauche, lahir di Provence, Swiss 12 Mei 1915. Bruder Roger adalah anak bungsu dari sembilan bersaudara pasangan Amelie Marsauche dan Charles Schutz. Ayah Bruder Roger adalah seorang imam Protestan dalam tradisi Lutheran. Bruder Roger ini mendapatkan perkembangan kehidupan spritualnya semenjak muda bersama dalam keluarganya[1].

Dalam umurnya yang ke-20, Bruder Roger berlajar teologi di Universitas Lausanne, mengikuti jejak ayahnya. Selama masa belajarnya, beliau bahkan pernah menjabat ketua organisasi mahasiswa kristiani. Dalam organisasi tersebut ditemuinya fakta sulitnya berkerjasama antara orang kristiani sendiri. Bahkan dalam berbicara mengenai Tuhan dan mencari Tuhan, orang-orang kristiani harus berselisih. Kemudian dimulailah kesibukannya memimpin pertemuan-pertemuan dan doa bersama dalam organisasi ini. Nampaknya, impiannya akan komunitas murid Kristus yang ideal mulai tumbuh dalam masa studi ini. Bahkan thesis yang disusunnya berjudul The Ideal of the Monastic Life before St. Benedict and its Conformity with the Gospel. Cita-citanya akan terbentuknya suatu komunitas biara yang mengabdikan diri pada perdamaian dan mendasarkan diri pada Allah nampaknya semakin jelas pada masa ini.

Bruder Roger di akhir studinya, bertekad untuk mewujudkan secara nyata teori abstraknya dalam kehidupan. Tahun 1940[2] menjadi tahun istimewa bagi Taize, karena pada tahun inilah Bruder Roger sampai Taize. Di dusun Taize, dekat dengan Cluny, beliau menemukan sebuah rumah yang akan dijual. Di tempat ini Buder Roger belum mempunyai komunitas, ia masih hidup menyendiri layaknya para rahib dahulu. Ternyata, Taize menjadi tempat cocok untuk pengungsian para pelarian politik, sebab tempat ini dekat dengan garis demarkasi yang membagi Prancis menjadi dua. Di rumah tersebut Bruder Roger menerima dan menyembunyikan para pelarian (kebanyakan orang Yahudi yang dikejar kejar Nazi)[3].

Tahun 1942-1944 dia meninggalkan Taize karena aktifitasnya melindungi para pelarian diusik oleh tentara Jerman. Pada periode ini, ia kembali ke Swiss, bahkan sempat melanjutkan ujian tesisnya pada bulan April 1943. Di universitas tersebut Bruder Roger memperkenalkan cara hidupnya kepada teman-teman dari lingkungan studinya. Sampai pada akhirnya saat kembali ke Taize tahun 1944, Bruder Roger ditemani 3 saudaranya yang punya niat sama. Tahun 1949, tujuh orang Bruder yang pertama menyatakan tekad hidup membiara selama hidup; hidup selibat; penerimaan atas tugas pelayanan dari prior (yang pada waktu itu adalah Bruder Roger); pemilikan bersama atas barang jasmani dan Rohani[4]. Sejak itulah Bruder Roger bersama-sama dengan saudara-saudaranya membangun suatu komunitas di Taize. Tahun 1961 mulai bergabunglah orang katolik dalam komunitas ini. Anggota komunitas ini kini tidak terbatas dari Eropa saja, namun juga dari berbagai belahan dunia.

Semenjak tahun 1957, komunitasTaize mulai menyambut orang-orang muda. Dari tahun ke tahun semakin banyaklah kaum muda (dan juga kaum tua) mengunjungi Taize. Desa kecil tersebut menjadi oase bagi orang-orang yang kehausan dalam padang kehidupan yang semakin rumit dan gersang ini. Taize tidak berhenti menjadi sebuah nama dusun, namun menjadi gerakan persekutuan Ekumenis yang menyebar ke pelosok dunia. Komunitas-komunitas Ekumenis yang berakar dari doa-doa Taize tumbuh di banyak negara. Tanggal 16 Agustus 2005 silam, Bruder Roger menghembuskan nafas terakhirnya. Namun semangatnya masih mengalir dalam komunitas Taize dan juga persekutuan-pesekutuan doa Taize di berbagai negara.

2. Taize sebagai gerakan persekutuan Ekumenis

Komunitas Taize yang mampu menerima semua macam Gereja akhirnya menjadi model bagi gerakan-gerakan Taize di banyak tempat. Taize menjadi suatu persekutuan doa yang mencoba memaknai doa dan ritual keagamaan sehingga hubungan personal antara manusia sebgai individu dengan Allah menjadi semakin efektif dan efisien. Kini nama Taize tidak lagi melulu menunjuk pada suatu dusun kecil di negara Perancis, namun dikenal sebagai suatu persekutuan doa meditatif yang bersifat ekumenis.

Dalam bukunya Semoga Mereka Bersatu agar Dunia Percaya, Br. Roger menyampaikan beberapa prinsip yang harus menjadi inspirasi dan bimbingan menuju ekumenis sejati: [1] Dialog. Dalam dialog, orang berusaha memberi jawaban kepada lawan bicara sesuai dengan cara berpikirnya.dengan dialog, dapat dihindarkan pola pikir sempit dan hanya sesuai apa yang diketahui sepihak saja. Sejarah telah mencatat, ekumenis tidak pernah jalan saat masing-masing pihak membawa pemikiran dan gagasannya pribadi, tanpa mau mencoba mengerti pihak yang lain. Br. Roger menambahkan prisip cinta kasih dalam usaha dialog menuju ekumenis sejati.

[2] Tujuan yang murni. Dialog harus terjadi secara tulus, tanpa banyak tendensi dan muatan banyak kepentingan di dalamnya. Pada dasarnya, semua umat Kristen adalah satu, karena Tuhan telah memberi tugas yang sama. Namun dalam perjalannya, tugas tersebut diterjemahkan dalam banyak kerangka pikir sehingga terjadi penyelewengan dari semangat ekumenis.

[3] Doa. Bagi Br. Roger jelas, tanpa adanya doa, gerakan ekumenis hanya menjadi suatu gerakan yang hampa dan kering. Doalah yang akhirnya memberi semangat baru untuk terus maju dan berkembang dan untuk terus saling mencintai. Doa akan membawa kesadaran kembali bahwa Gerja adalah suatu kesatuan suci, bukan melulu sosiologis maupun politis.

[4] Kesabaran. Doa dan tindakan harus dilandasi sikap sabar. Hanya Tuhanlah yang mempunyai jalan, bukan manusia yang mendikte kehendaknya kepada Tuhan. Sikap kepasrahan dan kesabaran nantinya akan membawa pada keteguhan hati.

[5] Batin yang sederhana. Semua orang kristen, entah seorang ahli kitab, ahli teologi maupun orang awam yang sungguh-sungguh sederhana mempunyai panggilan ekumenis yang sama. Br. Roger hendak mengajak kembali orang kristen untuk memberikan ketulusan dalan menjalin ekumenis. Kesederhanaan ini diterapkan dalam doa Taize yang dikembangkannya.

Prinsip-prisip inilah yang dipegangnya dan dijadikan modal dasar dalam mewujudkan mimpinya tentang ekumenis. Akhirnya, gerakan Taize menjadi suatu bentuk nyata persekutuan ekumenis yang dengan cara barunya mendasarkan diri pada spritualitas hidup doa. Gerakan ini sampai saat ini dimotori dan digawi dua unsur utama: musik dan komunitas. Musik menjadi tempat universal bagi semua jenis gereja. Akhirnya nada dan nyanyian menjadi bahasa universal dalam memuji Tuhan. Sedangkan Komunitas para Bruder Taize menjadi suatu kesaksian nyata kehidupan ekumenis.

2. 1. melantunkan doa Taize

2. 1. 1. Doa dan musik Taize

Bruder Roger mengajak orang untuk secara jujur dan tulus kembali bertemu dengan Allah. Ketulusan dan kejujuran tersebut pada awalnya hidup dalam situasi praktis, memberikan tenaga pada korban-korban perang, kini semakin diwujudkan dalam sikap keterbukaan Ekumenis. Doa Taize diterima dalam hampir semua kalangan umat kristen. Doa-doa Taize menjadi perwujudan nyata ajakan Bruder Roger untuk bersama-sama sebagai saudara bertemu Allah. Doa-doa Taize menjadi kekhasan persekutuan doa ini, sebuah doa yang berbentuk singkat dan sederhana sehingga mudah diingat. Disamping itu, bentuknya dalam nyanyian singkat sangatlah mudah diikuti, bahkan oleh orang-orang sederhana. Nyanyian doa-doa tersebut dibawakan dalam suasa meditatif penuh keheningan.

Kesederhanaan doa Taize yang singkat tersebut ternyata menjadi semacam ‘mantra’ yang manjur untuk berdoa. Sisi afeksi peserta lebih disentuh daripada doa liturgi resmi Gereja yang panjang dan berbelit-belit. Seperti orang muslim berzikir, orang Katolik ndremimil berdoa rosario, demikian juga orang berdoa dalam gaya Taize. Kesederhanaannya membawa suasa meditatif. Suasana meditatif tersebut menjadi wahana yang efektif bagi suatu doa. Bruder Roger mengajak orang untuk bersama-sama menuju Allah dengan kepenuhan hatinya. Karena kesederhanaannya itu pula, nyanyian-nyanyian Taize dapat diterjemahkan dalam berbagai bahasa dari berbagai negara. Dengan demikian dapat menyapa semakin banyak orang dengan masing-masing bahasanya.

Dalam pengalaman penulis, bentuk doa Taize yang meditatif tersebut menjadi wadah bagi banyak persekutuan ekumenis di banyak tempat. Salah satu tempat yang subur dengan persekutuan doa Ekumenis adalah universitas-universitas. Dalam kegiatan kemahasiswaan, persekutuan doa Taize menjadi wadah berkumpulnya kaum muda dari segala macam gereja. Berbekal alat musik yang sederhanapun, misalnya gitar, doa Taize dapat dilambungkan bersama. Doa meditatif yang dibungkus dengan kesederhanaan tersebut secara ajaib menarik kaum muda. Banyak pendapat mengatakan kaum muda sekarang adalah generasi MTV yang serba ramai jauh dari suasana meditatif dan serba cepat-tidak sabaran penuh suasana instant. Namun yang terjadi masih sangat banyak kaum muda yang tertarik dengan model doa Taize. Tidak hanya di Taize sana, namun juga di banyak tempat.

2.1.2. Persaudaraan dalam Taize

Walaupun doa Taize ada dalam suasana meditatif, namun persekutuan Ekumenis Taize juga mendapatkan bentuknya. Bukan berarti dalam persekutuan doa yang sangat hening tersebut, hening pula persaudaraannya. Setiap tahun, ratusan ribu kaum muda berkumpul dalam satu persaudaraan di Taize. Masing-masing datang dengan kekhasannya berbaur dan berbagi dalam kehidupan. Demikian juga dengan bentuk persekutuan doa Taize yang akhirnya berkembang ke pelosok dunia.

Tidak dapat dipungkiri, doa Taize menjadi tempat pertemuan kaum muda (juga kaum tua) untuk saling berbagi. Bentuk persaudaraan, persekutuan, paguyuban inilah cita-cita Taize. Persatuan (tidak dalam arti institusional) menjadi perspektif dari Taize yang masih sangat mungkin untuk diperkembangkan. Kesempatan doa bersama ala Taise menjadi peluang suatu pertemuan banyak perbedaan dalam Gereja. Misalnya, dalam praktik doa Taize hampir selalu dipelopori oleh kaum muda dan mereka jugalah yang mempersiapkan segala sesuatunya. Orang-orang yang punya minat sama ini disatukan dalam satu kebutuhan, kebutuhan untuk bersama-sama bertemu Allah. Kesibukan-kesibukan inilah yang memungkinkan terjadinya persaudaraan yang sesungguhnya dalam doa Taize. Akhirnya, melantunkan sebuah doa Taize tidak bisa lepas dari sisi kebersamaan. Kesadaran akan kebersamaan itulah nada-nada indah doa Taize.

2. 2. menggali Kitab Suci

“Jesus remember me, when you come into Your kingdom.”

“Yesus Ingat aku saat Kau masuk K’rajaan-Mu”[5]

Bila kita mencermati teks-teks doa Taize, sangat banyaklah kutipan Kitab Suci yang dipakai. Doa Taize tidak memuat rumusan-rumusan teologis suatu aliran gereja tertentu, namun secara singkat dan sederhana menggunakan teks Kitab Suci. Melalui Kitab Suci orang disapa langsung dengan sabda Allah dan dihantar dalam kehadiran Kristus. Nampaknya, gerakan kembali ke sumber inilah yang menjadi kekuatan persekutuan Taize dalam usaha persatuan. Atas dasar Kitab Suci pula, akhirnya Taize diterima hampir oleh semua jenis Gereja. Tanpa banyak memikirkan perbedaan dan perselisihan, Taize menjadi tempat pertemuan semua orang beriman.

Bruder Roger dan komunitas Taize memang tidak bermaksud mendirikan suatu jenis Gereja sendiri, mereka tidak hendak membentuk suatu denominasi baru. Dengan semangat dasar persatuan dan kedamaian manusia, mereka hendak menyumbangkan suatu spritualitas baru. Disebut baru karena memang mereka hendak mencoba mewujudkan gagasan akan kesatuan umat beriman dalam kehidupan konkret. Disebut spritualitas sebab mereka tidak bermaksud menarik orang untuk masuk dalam institusi mereka, namun bersama-sama hendak menemukan Yesus dalam dunia nyata[6].

Kitab Suci menjadi sumber yang tidak habis digali untuk persekutuan ini. Dengan kesederhanaannya, komunitas Taize tidak mau jatuh dalam perdebatan teologis namun hendak mengajak umat manusia kembali ke ruang batinnya bertemu dengan Allah. Dengan demikian, Taize menjadi suatu gerakan persekutuan Ekumenis yang bersifat spritual. Taize tidak mengajak orang untuk berdiskusi, namun berdoa bersama. Taize tidak mengajak orang untuk memikirkan perbedaan, namun untuk bersama-sama menuju Allah.

3. Kesimpulan: Taize dalam perspektif

Persekutuan doa Taize yang diperkenalkan para Bruder Taize mempunyai sejarah panjang. Taize mengalami banyak perubahan dan perkembangan dalam masing-masing daerah. Sebagai persekutuan doa ekumenis ada dua hal yang nampaknya bisa menjadi peluang dan juga tantangan ke depan.

3.1. Taize dalam ciri masing-masing Gereja

Di Indonesia juga banyak berkembang komunitas-komunitas Taize. Dalam perjalanannya, ternyata juga muncul variasi-variasi dari bentuk doa Taize. Doa meditatif Taize mengalami beberapa penyesuaian dan juga perkembangan seturut dengan kepentingan dan keperluan dari jemaatnya. Hal ini patut disyukuri, ada semangat persaudaraan yang dibangun melalui doa Taize. Tidak jarang komunitas doa Taize dibangun lintas Gereja.

Namun demikian, kalo tidak hati-hati muncul pula gerakan yang “kehilangan” semangat ekumenis. Sebagai contoh di Indonesia, atau di kota Yogyakarta ini Taize juga tidak jarang hanya dilakukan di dalam lingkaran umat Gereja yang sama. Selain itu, bisa juga terjadi suatu ibadat Taize digubah sedemikian rupa sehingga sangat khas Gereja tertentu. Misalnya, sewaktu penulis menjalani masa Tahun Orientasi Rohani di Semarang, ibadat Taize kami mengalami perubahan. Dengan mantapnya, kami menambahi unsur adorasi bagi Sakramen Mahakudus. Memang bagi umat tertentu, perubahan dalam ibadat Taize akan semakin membantu penghayatan. Namun bila hal ini tidak disadari, Taize sebagai suatu bentuk persekutuan doa Ekumenis kehilangan daya pemersatunya bagi semua beriman.

Salah satu hal yang harus selalu disadari adalah kedekatan gerakan Taize dengan tradisi hidup monastik. Pembaharuan para rahib untuk kembali ke sumber dan menghayati dan mengembangkan sisi spritualitas hidup beragama sangat dekat gerakan pembaharuan Taize. Tradisi hidup monastik sendiri dapat dipandang sebagai semacam jawaban atas situasi Gereja waktu itu yang serba sosiologis dan politis. Maka gerakan Taize juga menawarkan gerakan yang bersifat spiritual. Oleh sebab itulah, maka tidaklah mudah membawa unsur institusional ke dalam gerakan Taize. Hal ini harus disadari. Bisa jadi dalam praktiknya, karena diarasa besar dan beranggotakan banyak orang makan Taize masuk ke dalam institusi yang tidak lagi dinamis. Tegangan inilah yang selalu ada dalam prospektif Taize: bagaimana gerakan ekumenis ini hidup dan memberi kesaksian hidup dalam doa dalam Gereja tetap ada dalam jalurnya yang spritual dan selalu terbuka akan pembaharuan.

3. 2. Taize sebagai peristiwa Tabor penuh kemuliaan.

Para peziarah yang mengunjungi Taize sampai saat ini masih sangat banyak. Ratusan ribu kaum muda kembali ke ruang batinnya masing-masing di Taize, setelah beberapa lamanya mengalami hiruk pikuk dunia. Kegalauan para muda ini ditangkap Bruder Roger yang dengan setia menemani dan memberi semangat bagi mereka yang hendak minum air dari sumber yang tak pernah kering. Persekutuan doa Taize memang tidak dapat dipungkiri menjadi sebuah mukjijat di zaman ini. Banyak sekali orang terbantu dalam permasalahannya, kegelisahannya, kerisauannya melalui doa Taize.

Demikian pula dengan gerakan-gerakan Taize lokal. Persekutuan-persekutuan ini akhirnya menjadi tempat menimba kembali semangat hidup dalam Yesus Kristus. Taize menjadi sarana orang untuk kembali bertemu Yesus Kristus dalam kehidupan nyata. Hal ini semakin jelas dalam kehidupan kaum muda yang sedang risau menghadapi zamannya.

Bagi Bruder Roger, perubahan hanya bisa dimulai dari dalam hati. Ketika seorang tergerak hatinya oleh Roh Kudus, maka dia akan dimampukan untuk semakin mewujudkan harapan hidupnya. Di titik inilah, nampaknya Taize bisa disalahartikan dalam praktiknya. Bila tidak kritis, Taize bisa menjadi semacam gunung Tabor yang melenakan orang untuk kembali menekuni hidup. Seperti layaknya orang sedang mengalami kegembiraan, kesadaran akan kehidupan nyata harus terus ada. Sang Sumber akhirnya harus kembali dialirkan dalam kehidupan nyata masing-masing orang. Pengembangan persekutuan ini bisa dibawa tidak hanya sebatas perkumpulan doa (walau berdoa bersama juga sama pentingnya), namun bisa diarahkan pada kehidupan nyata. Misalnya pada panggilan kemanusiaan maupun mensikapi realitas sosial.

Pada ponit ini pula Taize sampai pada situasi rawan. Bila tidak hati-hati panggilan kemanusiaan dalam gerakan Taize menarik lebih banyak energi dan perhatian daripada semangat dasar Taize. Doa sebagai motor utama Taize tidak bisa begitu saja digantikan maupun direduksi dalam tindakan moral-sosial. Taize selalu dalam tegangan inilah dalam prospeknya: bagaiman Taize menjadi gerakaan ekumenis yang mendasarkan diri pada spritualitas doa sekaligus peka dan tanggap atas tuntuntan zaman, seperti halnya Br. Roger merawat dan memberi tumpangan para korban perang.

-=[~W~]=-

Daftar bacaan:

Balado, J.L.G.,The Story of Taize,Mowbray, London, 1981

Billy, Dennis J., A Visit to Taizei dalam Review for Religion, 1996

Evans, Michael, Learning form Taizei dalam Priest and People: 2002

Roger, Br., Sumber-sumber Taize-Tiada Kasih Yang lebih Agung, Kanisius, Yogyakarta, 2004

Sastra, Perdana, Bruder Roger dari Taize: Saluran Kasih Kristus dalam HIDUP: September 2005.

Schultz, Roger, Aturan Hidup Taize, Puskat, Yogyakarta, 1973

--------------------, Parable of Community: Basic Texts of Taize, Mowbray, London, 1980.

--------------------, Semoga Mereka Bersatu agar Dunia Percaya, Nusa Indah, Ende, 1978

Simmonds, G., The Spirituality of Taize Chantsi dalam Supplement of the Way: 1990.

Turner, Kathryn, Taize’s quite Miracle dalam Tablet: 25 Sept. 2004

Penulis:

Dominicus Donny Widiyarso, Pr: Pastor Pembantu di Paroki Karanganyar, Surakarta.



[1] Bruder Roger sangat mengagumi ketulusan dan orisinalitas orang tuanya dalam beriman. Bruder Roger pernah berkata, “Aku yakin ayahku sebetulnya seorang mistikus dalam hatinya. Tiap hari dia berdoa di kapel sendirian. Saat umurku 12 tahun, aku melihatnya berdoa pula di gereja orang katolik.”

[2] PD II sudah dimulai 1939

[3] Bruder Roger terinspirasi oleh neneknya yang juga membantu para pengungsi dalam PD I

[4] Bruder Roger, Sumber-sumber Taize: Tiada Kasih yang lebih Agung, Kanisius, Yogyakarta,2004, hlm. 96.

[5] Lagu Taize dalam ritme ¾ ini diambil dari Luk 23:42

[6] Bruder Roger, Sumber-sumber Taize: Tiada Kasih yang lebih Agung, Kanisius, Yogyakarta,2004, hlm. 9

 
Powered by Blogger